Kamis, 25 Oktober 2012

Cerita Haji di Jabal Rahman

Menengok Bukit Kasih Sayang

(Jabal Rahman)

Cecep dan Winda. Dua nama khas Indonesia itu tergores pada dinding pada sebuah monumen bersejarah di Kota Makkah. Monumen bersejarah itu berdiri pada sebuah bukit yang terletak  di Selatan Padang Arafah atau tenggara Tanah Suci, Makkah. Ya nama sepasang insan itu tertulis di monumen Jabal Rahman alias Bukit Kasih Sayang.

Dibukit inilah nabi Adam AS dan Siti Hawa bertemu kembali setelah 200 tahun berpisah, sejak keduanya diturunkan dari surga. Hari itu Bukit Kasih Sayang dikunjungi jamaah haji dan unrah dari berbagai negara seperti Turki, Pakistan, dan India. Begitu memasuki kawasan Jabal Rahman, pandangan saya terkejut pada papan pengumuman yang dipasang oleh Pemerintah Arab Saudi, papan pengumuman itu isinya cukup mengagetkan.

“ Nabi Anda Tercinta, Muhammad SAW , tidak datang kesini, kecuali di Hari Arafah. Beliau tidak naik ke gunung. Beliau bersabda, ‘Arafah semuanya adalah tempat wukuf’. Begitu pula Nabi SAW tidak memerintahkan untuk mengusap sesuatu yang ada digunung atau pohon-pohon, atau mengikatnya.”

“Dan beliau tidak memerintahkan sholat diatas gunung, menulis dibatu, atau membangun sesuatu diatas gunung. Wahai saudaraku jamaah haji ikutilah sunah Nabi SAW yang telah bersabda,’Ikutilah cara ibadah kamu dariku’. Semoga Allah menerima haji kita semua.”

Bahkan, sebelum tangga menuju Jabal Rahman terpampang pengumuman bahwa mengunjungi Jabal Rahman bukanlah hal yang perlu dilakukan . Bahkan , disarankan untuk menghindarinya. Para Penziarah juga dilarang untuk memeluk dan mengusap-usap Jabal Rahman. Tetapi Pengumuman dan seruan dalam berbagai bahasa ,termasuk Bahasa Indonesia itu, tak terlalu diperdulikan jamaah haji yang berziarah ketempat itu.

Jamaah haji asal Turki misalnya , banyak yang berdoa sambil menangis, memeluk, dan mengusap-usap monumen Jabal Rahman. Banyak pula yang menuliskan nama mereka didinding monumen Jabal Rahman. Bukit Jabal Rahman juga sudah mirip pasar dadakan. Diatas bukit kasih sayang itu para pedagang menjajakan berbagai cendera mata bagi para pengunjung. Tawar menawarpun tak terhindarkan.

Jika berkunjung ke Bukit Kasih Sayang, jamaah haji Indonesia harus mewaspadai ulah tukang foto keliling. Jumlah tukang foto yang menawarkan foto langsung jadi cukup banyak jumlahnya. “ Hati-hati sama tukang foto diatas, mereka suka memeras.” Ujar Zaini, sopir yang mengantarkan saya dan rombongan wartawan ke Jabal Rahman. Saya sempat menyaksikan jamaah asal Turki perang mulut dengan tukang foto meminta bayaran semaunya. Tak lama kemudian, puluhan tukang foto itu berhamburan menuruni bukit Kasih Sayang. Sepertinya jamaah Turki tadi mengadu kepada Petugas dan tukang foto itu pun berlarian.

Mengunjungi Jabal Rahman sekedar untuk berwisata dan mengetahui tempat bersejarah tentu tidak salah. Yang dilarang pemerintah Arab Saudi adalah melakukan perbuatan yang tak dicontohkan Rasulullah SAW di Jabal Rahman. Tentu saja, agar ibadah haji kita tak melenceng dari tujuan semula. Semoga Allah menerima haji kita semua. Aamiin.

Oleh Heri Ruslan

0 komentar:

Poskan Komentar